Tampilkan postingan dengan label Umat Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umat Muslim. Tampilkan semua postingan

Inilah Macam-Macam Najis dan Cara Membersihkannya

Cahayatasbih.com - Islam adalah agama yang selalu
peduli akan kebersihan, karena dalam Islam menjaga kebersihan itu sangatlah penting terutama menjaga kebersihan diri dari najis.

Seperti yang kita ketahui, najis dapat menghalangi kita untuk melakukan ibadah seperti shalat, membaca Alquran dan sebagainya. Dalam Islam sendiri najis dibedakan dalam beberapa kelompok menurut tingkatannya.


Inilah Macam-Macam Najis dan Cara Membersihkannya
Sumber: Makintau.com
Dan berikut ini adalah beberapa macam-macam najis yang perlu kita ketahui dalam Islam.

1. Najis Mukhaffafah (Najis Ringan)

Najis Mukhaffafah adalah najis ringan, biasanya najis ini berasal dari air seni seorang bayi laki-laki yang masih dibawah usia 2 tahun dan hanya masih diberi makan berupa ASI (air susu ibu). Karena merupakan sebuah najis yang ringan maka untuk membersihkan najis ini juga cukup mudah yaitu cukup dengan memercikan air ke bagian yang terkena najis tersebut.

2. Najis Mutawassithah (Najis Biasa/Sedang)

Najis Mutawassithah adalah najis yang berasal dari kotoran baik kotoran hewan atau manusia, air kencing, bangkai (kecuali ikan dan belalang), air susu hewan yang diharamkan dagingnya, dan lain sebagainya.

Najis mutawassithah juga dibedakan menjadi dua yaitu:
  1. Najis ‘Ainiyah: Jelas terlihat rupa, rasa atau tercium baunya.
  2. Najis Hukmiyah: Tidak tampak (bekas kencing & miras)

Untuk mensucikan diri dari najis mutawassthah, yang harus dilakukan adalah membersihkan bagian yang terkena najis dengan menggunakan air yang mengalir hingga benar-benar hilang najisnya.

3. Najis Mughalladhah (Najis Berat)

Najis Mughalladhah adalah najis yang paling tinggi tingkatannya, najis ini berasal dari air liur anjing, babi dan sebagainya. Karena merupakan najis yang berat, maka untuk cara membersihkan diri dari najis ini perlu menggunakan bilasan air 7 kali dimana salah satunya dibersihkan menggunakan tanah agar najis tersebut benar-benar hilang.

Itulah beberapa macam-macam najis dan cara membersihkannya, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua. Aamiin. 


Sumber: Makintau.com

Ternyata, Inilah 2 Surat Yang Akan Jadi Pembela Pembacanya Dihari Kiamat

Cahayatasbih.com - Terdapat seratus empat belas surat di dalam Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah. Dalam masing-masing surat ada keistimewaan yang tidak dipunyai surat lain. Keistimewaan adalah kelebihan namun bukan berarti satu surat lebih rendah daripada surat lain.

Ternyata, Inilah 2 Surat Yang Akan Jadi Pembela Pembacanya Dihari Kiamat
Sumber : kumpulanmisteri.com
Dua surat yang membela pembacanya di hari kiamat akan memberikan pelajaran bagi kita bahwa sekecil apapun amalan baik kita di dunia, Allah akan memberikan balasan yang lebih besar. Meskipun, semua dalil yang ada di dalam Al-Qur’an dan hadits memiliki manfaat bagi manusia, tapi kita dapat menggunakan dua surat ini sebagai pembela di akhirat kelak.

Surat Al-Ikhlas setara dengan sepertiga kandungan Al-Qur’an. Hal ini menjadi dasar para ulama berpendapat bahwa membaca surat Al-Ikhlas sebanyak tiga kali sama artinya jika kita membaca tiga puluh juz Al-Qur’an. Selain itu, para ulama lain berpendapat bahwa sepertiga itu berkaitan dengan kandungan makna di dalam surat ke 112 itu. Inilah khasiat surah al Baqarah yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin dalam kehidupan sehari-hari sebagai amalan baik kita.

Rasulullah juga menjelasakan surat lain, yakni surat Al-Baqarah. Surat ini adalah surat terpanjang yang memiliki 286 ayat. Selain itu, dalam surat ini juga terdapat ayat terpanjang di dalam Al-Qur’an yakni terletak pada ayat 282. Surat ini memiliki keutamaan yakni dapat membuat setan lari dari rumah yang orang di dalamnya membacakan surat Al-Baqarah. Rumah yang dihuni oleh setan maka manusia yang menghuninya akan dengan mudah dijerumuskan dalam perbuatan maksiat.

Imam Ahmad meriwayatkan sabda Rasul yang berisikan bahwa semua ayat di dalam Al-Qur’an dapat memberikan syafaatnya pada pembacanya di kehidupan akhirat kelak. Oleh karena itu, luangkan waktu setiap hari untuk membaca surat di dalam Al-Qur’an. Namun, akan lebih baik jika kita juga memahami maksud dari ayat tersebut agar dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila surat Ali ‘Imran digabungkan dengan surat Al-Baqarah (disebut az-Zahrawain), maka hadits dari Abu Umamah ini melanjutkan maksudnya, yakni anjuran untuk membaca az-Zahrawain karena kedua surat tersebut akan datang di hari akhir seperti tumpukan awan atau seperti dua kelompok burung yang melebarkan sayapnya atau dua benda yang menaungi yang akan membela bagi pembacanya. Kelebihan surah al Baqarah tidak mengurangi manfaat dari surat-surat lain sebagai petunjuk dalam menjalani hidup di jalan Allah. Semua dalil di dalam Al-Qur’an dan hadits dapat dijadikan pedoman hidup.

Imam Muslim juga meriwayatkan perintah untuk membaca surat Al-Baqarah karena akan mendatangkan banyak berkah. Apabila kita tidak mengamalkannya adalah suatu kerugian bagi kita. Bahkan tukang sihir tidak akan mampu menjangkau pembacanya. Imam Muslim dan Bukhari di dalam shahihnya menyebutkan jika Rasulullah pernah membaca kedua surat ini di dalam satu rakaat shalat. Hal ini membuktikan bahwa kedua surat ini memiliki keistimewaan tersendiri sehingga Rasulullah menggunakannya sebagai surat pendek dalam shalatnya.

Sebagai seorang muslim, faedah membaca surat al-ikhlash setiap hari dapat kita lakukan untuk meningkatkan keimanan dan mendekatkan diri pada Allah. Jangan membiarkan satu detik pun terlewatkan tanpa kita mengingat Allah. Banyak amalan yang dapat kita lakukan agar selalu mengingat Allah disetiap langkah kita. Allah telah menyediakan banyak pilihan amalan baik sehingga kita dapat melakukan ibadah sunnah mana yang dapat kita lakukan sesuai kemampuan.



Sumber : kumpulanmisteri.com

Lakukan 4 Cara Ini Agar Rezeki Datang Mendadak Pada Anda

Cahayatasbih.com - Rezeki memang tidak hanya berupa materi dan uang saja. Tapi juga bisa dalam bentuk lain yang mampu mendatangkan kebahagiaan. Namun umumnya manusia bekerja setiap hari untuk mendapatkan uang.

Jumlah rezeki masing-masing orang berbeda setiap bulannya. Para pekerja biasanya sudah memiliki takaran berapa jumlah materi yang akan didapatkan setiap bulan. Pendapatan ini lah yang kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sumber : infoyunik.com
Namun tahukah anda bahwa ternyata ada rezeki yang datangnya dadakan dan tidak disangka-sangka? Caranya adalah dengan melakukan amalan-amalan yang mudah dilakukan berikut ini. Apa saja? Berikut empat cara menjemput rezeki agar datang mendadak.

1. Perbanyak Syukur
Bersyukur merupakan cara untuk mendapatkan lebih. Matematika Allah SWT sangat berbeda dengan matematika yang digunakan manusia. Lihat saja, bagaimana Allah sangat mudah memberikan lebih kepada mereka yang bersyukur. Ada saja jalan rezeki bagi mereka yang tidak mengeluh, meski dalam kondisi yang terbatas dan kekurangan.

Bukankah hal ini juga sudah dijanjikan dalam Allah SWT dalam Alquran, bahwa siapa yang bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya. Namun mereka yang mendustakan, maka akan mendapat azab yang pedih.

“(Ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat”. QS. Ibrahim: 7.

2. Bersedekah
Bersedekah adalah memberikan sebagian yang kita miliki kepada orang lain. Allah SWT menjanjikan ganti yang pasti kepada mereka yang bersedekah untuk orang lain. Baik sedekah materi maupun sedekah dalam bentuk lain. Allah menjelaskan hal ini dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 261 yang artinya:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir berisi seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah:261).

Jadi, meski bersedekah pada awalnya dapat mengurangi harta yang kita miliki, namun selanjutnya, Allah SWT akan mengganti dengan berlipat ganda. Akan tetapi, dalam bersedekah sebaiknya kita berharap ganti untuk akhirat dibanding mengharap balasan di dunia. Terlebih jika saat bersedekah kita hanya berharap balasan harta, dan bukan ridha dari Allah SWT.

3. Banyak Beristigfar
Istigfar juga menjadi salah satu amalan penjemput rezeki. Terkadang dosa-dosa yang kita lakukan akan menutup pintu rezeki dalam diri. Sehingga meski sudah berusaha semaksimal mungkin, namun tetap saja rezeki yang diinginkan tidak kunjung didapatkan.

Istigfar merupakan dzikir yang maknanya memohon ampun atas dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan agar manusia beristighfar jika mengalami  kegersangan, kefakiran, sedikitnya keturunan dan kekeringan kebun-kebun. Jadi perbanyaklah istigfar jika rezeki tidak kunjung hadir.

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat”. (Hud : 3)

4. Membaca Surat Al Waqiah
Surah Al Waqiah juga dikenal sebagai surat pendatang kekayaan. Surat ke-56 ini berisi kandungan iman dan tauhid, bukti kekuasaan Allah SWT serta  adanya hari kebangkitan.

“Ajarkanlah Surat Al Waqiah kepada isteri-isterimu. Kerana sesungguhnya ia adalah surah Kekayaan.” (Hadis riwayat Ibnu Ady)

Semoga dengan amalan-amalan ini, Allah SWT akan mendatangkan rezeki secara mendadak kepada hamba-hambaNya.



Sumber : infoyunik.com

Wajib Baca : Inilah 3 Hal Yang Membuat Amal Sedekah Anda Menjadi Sia-Sia

Cahayatasbih.com - Setiap harta yang kita miliki sejatinya terdapat hak orang lain. Sudah menjadi kewajiban untuk mengeluarkan hak tersebut kepada orang yang membutuhkan dengan jalan bersedekah.

Sumber : Infoyunik.com
Selain bermanfaat bagi penerimanya, sedekah juga memiliki manfaat bagi si pemberi. Allah SWT menjanjikan banyak pahala kepada orang yang bersedekah. Tidak jarang, janji berupa balasan berlipat ganda dari sang pencipta menjadi motif utama manusia untuk melakukan amalan ini.


Namun motif-motif yang menjadi latar belakang untuk bersedekah terkadang justru membuat amalan ini tidak berkah. Beberapa hal berikut ini mungkin saja pernah dilakukan saat bersedekah. Bukan menambah pahala, kesalahan tersebut justru hanya membuat amalan ini menjadi sia-sia. Apa saja? Berikut ringkasannya.

1. Bersedekah tidak ikhlas, atas riya’ dan sum’ah
Bersedekah sebenarnya membutuhkan proses untuk bisa ihklas. Pada tahap awal, perasaan tidak ikhlas, riya dan sum’ah kerap kali muncul. Sebagian mengatakan ini merupakan tahapan dari proses untuk ikhlas.

Sebagian mengatakan jika seseorang menunggu orang lain untuk ikhlas, bisa saja orang yang membutuhkan tidak ada yang membantu. Atau orang yang tadinya ingin bersedekah namun belum ikhlas, justru tidak jadi memberikan sedekahnya dan menunggu sampai dirinya ikhlas dahulu. Sehingga bersedekah meski tidak ikhlas diangggap tidak apa-apa.

Namun perlu diketahui bahwa amalan yang dilakukan dengan tidak ikhlas dan riya tidak mendapat berkah dari Allah. Sehingga proses menjalani tahapan untuk bisa ikhlas diharapkan jangan sampai berlangsung lama. Karena jika lama, maka apa yang sudah kita berikan tersebut tidak bernilai apa-apa di mata Allah SWT.

Bisa saja Allah SWT memberikan ganti yang berlipat ganda. Namun Dia sama sekali tidak memberikan keberkahan dari sedekah tersebut. Terlebih jika mereka riya dan ingin mendapatkan pujian, maka amalannya tidak akan diperdulikan oleh Allah SWT. Imam Nawawi rahimahullah menuturkan:

“Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa” (Syarh Shahih Muslim, 18: 115).

2. Bersedekah hanya untuk mendapatkan ganti di dunia
Banyak sekali buku yang membahas tentang keajaiban sedekah. Menerangkan bagaimana Allah SWT akan mengganti berpuluh kali lipat apa yang sudah kita berikan kepada orang lain. Hal inilah yang terkadang menjadi motif kita untuk bersedekah, yaitu mendapatkan ganti dari janji Allah tersebut. Ternyata niat ini hanya akan membuat amalan sedekah kita sia-sia. Karena manusia hanya mengharapkan ganti di dunia yakni kegelimangan harta. Allah Ta’ala berfirman,

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16).
Dalam ayat lain disebutkan,

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)

Qotadah mengatakan, “Barangsiapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan sholehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun ketika di akhirat, dia tidak akan memperoleh kebaikan apa-apa sebagai balasan untuknya. Adapun seorang mukmin yang ikhlash dalam beribadah (yang hanya ingin mengharapkan wajah Allah), dia akan mendapatkan balasan di dunia juga dia akan mendapatkan balasan di akhirat.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, tafsir surat Hud ayat 15-16)

3. Mengungkit-ungkit sedekah dan menyakiti penerimanya
Tindakan mengungkit-ungkit sedekah hingga akhirnya menyakiti penerimanya terkadang juga tidak bisa dihindarkan. Terlebih jika si penerima melakukan sedikit kesalahan, maka si pemberi akan meledak-ledak seolah dia sudah memberikan seluruh hartanya.

Beberapa kalimat yang terucap hingga menyakiti penerima sedekah misalnya “Tidak tahu diri, dulu waktu susah siapa yang membantu” dan masih banyak kalimat lainnya yang sangat menyakitkan bisa terucap. Jika tidak sengaja dan akhirnya mengucapkan kalimat-kalimat menyakitkan tersebut, silakan renungkan kalam Allah dalam Alquran berikut ini.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (QS. Al Baqarah: 264).

Ternyata, seseorang tidak mendapatkan pahala sedekah akibat melakukan dua kesalahan yakni mengungkit-ungkit sedekah dan menyakiti penerimanya. Pada hakikatnya manusia sama, yang membedakan hanya yang satu hartanya berlebih sehingga bisa memberi dan yang satu kekurangan.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi sahabat info yunik semua. Sekalipun hari ini kita masih tidak ikhlas dan melakukan tiga tindakan di atas, namun jangan berhenti untuk memberi. Hingga akhirnya hal itu akan menjadi kebiasaan, dan semoga Allah mengasihani kita dengan memberikan keikhlasan hati dan kebaikan ketika memberi. Terimakasih sudah membaca.



Sumber : infoyunik.com

Wajib Tahu: 600 Ribu Kalimat Wasiat Rasulullah untuk Ali bin Abi Thalib

Cahayatasbih.com - Setiap ucapan Rasulullah SAW
merupakan dakwah. Umat Islam percaya bahwa apa yang Ia sampaikan adalah pengetahuan yang bersumber dari Allah SWT. Dalam setiap kesempatan Nabi selalu menyampaikan kebenaran yang akhirnya diikuti oleh umat.

Termasuk saat kebersamaannya dengan sang keponakan, Ali Bin Abi Thalib. Dalam satu kesempatan, Rasulullah SAW pernah mengajukan pilihan kepada khulafaur rasyidin yang terakhir ini.


Wajib Tahu: 600 Ribu Kalimat Wasiat Rasulullah untuk Ali bin Abi Thalib
Sumber: Infoyunik.com
Pilihan yang diberikan Rasulullah adalah 600 ribu kambing, 600 ribu dinar atau 600 ribu kalimat. Ternyata suami dari Fatimah Az-Zahra ini memilih 600 ribu kalimat. Cukup banyak bukan? Lantas bagaimana Rasulullah SAW menyelesaikan 600 ribu kalimatnya? Penasaran? Berikut ulasannya.

Ternyata Rasulullah SAW tidak begitu saja menjelaskan 600 kalimat tersebut. Namun meringkasnya menjadi enam kalimat dengan makna yang begitu dalam.

Rasulullah saw bersabda: “Wahai Ali, apakah engkau menginginkan 600 ribu kambing, atau 600 ribu dinar atau 600 ribu kalimat? Ali menjawab: Wahai Rasulullah saw aku menginginkan 600 ribu kalimat.

Kemudian Rasulullah saw bersabda: Wahai Ali, aku meringkas 600 ribu kalimat itu ke dalam 6 kalimat:
  1. Jika engkau melihat manusia berlomba-lomba mengerjakan yang bukan kewajibannya, maka sibukkan dirimu dengan menyempurnakan kewajibanmu.
  2. Jika engkau melihat manusia berlomba-lomba dalam urusan dunia, maka sibukkan dirimu dengan urusan akhirat.
  3. Jika engkau melihat manusia sibuk mengurusi aib orang lain, maka sibukkan dirimu untuk mengurusi aibmu sendiri.
  4. Jika engkau melihat manusia sibuk menghias dunianya, maka sibukkan diri menghias akhiratmu.
  5. Jika engkau melihat manusia sibuk memperbanyak amal, maka sibukkan dirimu untuk membersihkan dan mengikhlaskan amal.
  6. Jika engkau melihat manusia sibuk menjadikan makhluk sebagai perantaranya, maka sibukkan diri untuk menjadikan Allah sebagai wasilahmu. (Al-Mawâ’izh Al-‘Adadiyyah, bab 6, pasal 4, hadis 1). 
Dari percakapan di atas, diketahui bahwa Ali tidak memilih unta dan emas yang ditawarkan Rasulullah SAW. Namun pilihannya adalah kalimat dari Rasulullah SAW yang Ia sadari pasti kaya makna dan begitu berharga dibanding unta atau dinar.

Kalimat Sang Nabi ini pun sangat menyentuh kalbu. Bahwa apa yang dikatakannya tersebut, ternyata begitu marak dilakukan pada zaman kini. Namun manusia lebih banyak memilih dunia yang fana dan hanya sebentar. Sementara akhirat yang kekal dan abadi, manusia banyak lupakan dan tidak peduli.

Semoga informasi yang sedikit ini dapat bermanfaat bagi pembaca setia Cahaya Tasbih.


Sumber: Infoyunik.com

Bagaimana Hukum Shalat Sambil Menangis? Apa Sah? Ini Jawabannya

Cahayatasbih.com - Sahabat muslimah pernah melihat orang yang shalat hingga menangis sesenggukan? Bagaimana hukumnya shalat sambil menangis seperti itu? Berikut ini ulasan kami.

Bagaimana Hukum Shalat Sambil Menangis? Apa Sah? Ini Jawabannya
Sumber : muslimahcorner.com
Allah SWT berfirman, “Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58).

Dalam hadits disebutkan, dari ‘Abdullah bin Asy-Syikkhir, ia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, ketika itu beliau menangis. Dari dada beliau keluar rintihan layaknya air yang mendidih.” (HR. Abu Daud no. 904 dan Tirmidzi dalam Asy-Syamail Al-Muhammadiyah no. 322. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit keras, ada seseorang yang menanyakan imam shalat kemudian beliau bersabda, “Perintahkan pada Abu Bakr agar ia mengimami shalat.”
‘Aisyah lantas berkata, ”Sesungguhnya Abu Bakr itu orang yang sangat lembut hatinya. Apabila ia membaca Al-Qur’an, ia tidak dapat menahan tangisnya.” Namun beliau bersabda, “Tetap perintahkan Abu Bakr untuk menjadi imam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 713 dan Muslim no. 418).

So, Sob, berdasarkan keterangan yang ada di hadits dan quran, menangis saat shalat kerena takut pada Allah SWT tidak membatalkan shalat.

Beberapa pandangan ulama madzhab soal hal ini,

Ulama Hanafiyah berpandangan bahwa jika menangis dalam shalat dikarenakan sedih pada musibah, maka itu membatalkan shalat. Karena seperti itu dianggap sebagai kalam manusia (perkara di luar shalat, pen.). Namun jika karena mengingat surga dan takut pada neraka, shalatnya tidaklah batal. Seperti itu menunjukkan bertambahnya khusyuk. Sedangkan khusyuk adalah ruh dari shalat.

Ulama Malikiyah berpandangan bahwa menangis dalam shalat bisa jadi dengan suara atau tanpa suara. Jika menangis tanpa suara, shalatnya tidak batal. Jika dengan suara, shalatnya batal. Sedangkan jika menangisnya dengan suara dan itu atas dasar pilihannya, shalatnya batal. Jika bukan atas pilihannya dan didasari karena sangat khusyuknya, shalatnya tidak batal walaupun banyak. Namun kalau bukan karena khusyuknya, shalatnya batal.

Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa jika menangisnya keluar dua huruf, maka membatalkan shalat karena seperti itu meniadakan shalat. Meskipun ketika itu menangisnya karena takut akhirat. Ini pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i, walau dalam madzhab Syafi’iyah sendiri ada yang menyelisihi pendapat tersebut.

Ulama Hambali berpendapat bahwa jika menangisnya terdiri dari dua huruf, itu muncul karena khasyah (rasa takut yang besar), atau bahkan sambil tersedu-sedu, tidaklah membatalkan shalat. Karena seperti karena terhanyut dalam dzikir. Begitu juga kalau seseorang tidak khusyuk lalu menangis dalam shalat, shalatnya batal.

Ibnul Qayyim mengatakan dalam Zadul Ma’ad, “Memaksakan diri untuk menangis disebut at-Tabaki, ada dua macam. Ada yang terpuji dan ada yang tercela. Memaksakan diri untuk nangis yang terpuji adalah berusaha menangis dalam rangka melembutkan hati dan agar takut kepada Allah, bukan karena riya atau sum’ah (pamer). Sementara memaksa nangis yang tercela adalah sok nangis untuk dilihat orang lain.” (Zadul Ma’ad, 1/175).

Baca Juga : MasyaAllah! Ternyata Ini Doanya Agar Keluarga Sakinah Selalu

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Menangis dalam shalat jika karena takut pada Allah dan mengingat perkara akhirat, begitu pula karena merenung ayat yang dibaca seperti saat melewati ayat-ayat yang menyebutkan janji dan ancaman, maka tidak membatalkan shalat. Adapun jika menangis tersebut karena musibah yang menimpa atau semacamnya, maka membatalkan shalat. Bisa membatalkan karena menangis tersebut berkaitan dengan perkara di luar shalat. Karenanya memikirkan perkara-perkara di luar shalat atau perkara lain mesti dihilangkan agar tidak membatalkan shalat. Intinya, memikiran berbagai macam hal yang tidak terkait dengan shalat berakibat kekurangan saja di dalam shalatnya.” (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 9: 141). Allahu a’lam.



Sumber : muslimahcorner.com

Kategori

Kategori